Sahabat, sahabat tentu sering melihat jajanan yang berwarna warni di sekolah. Warna-warna itu terkadang membuat kita tergiur ingin mencicipinya. Coba sahabat bayangkan, saat panas-panas sepulang sekolah, di halaman sekolah ada penjual sirop dengan warna seperti merah menyala, kuning, hijau, hmmm… sepertinya segar bila diminum bukan?

Eiitss, hati-hati, jangan dulu tergiur dengan warna-warna menyala pada jajanan itu karena ternyata warna-warna itu biasanya dihasilkan dari zat kimia yang dapat mengancam kesehatan. Zat pewarna yang biasanya dipake bernama rhodamin B. tahukan sahabat rhodamin B itu sebenarnya biasa digunakan untuk pewarna kertas dan tekstil, tentu akan berbahaya bila masuk ke tubuh kita.

Menurut ahli gizi dan makanan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Dokter Sri Iwa Ningsih, zat rhodamin ini adalah zat yang paling berbahaya bila masuk ke tubuh karena dapat merusak fungsi hati, bahkan kanker hati. Hiii.. ngeri bukan?? Menurutnya anak-anak yang mengonsumsi zat kimia ini biasanya rentan terhadap penyakit dan pertumbuhan badannya cenderung lambat.
Bukan Cuma pewarna buatan saja yang sering kita temui pada jajanan di sekitar kita. Pemanis dan pengawet buatan juga banyak terdapat pada jajanan kita.

Untuk mengawetkan jajanan, beberapa orang biasanya menggunakan formalin atau boraks, padahal kedua jenis zat kimia ini tidak boleh dicampur dengan makanan. Formalin biasanya digunakan untuk mengawetkan mayat agar tidak cepat busuk dan berbau, sedangkan boraks biasanya digunakan untuk pengawet kayu, pengontrol kecoak, dan bahan pembersih.

Formalin yang dicampur dalam makanan pada dosis rendah dapat menyebabkan sakit perut disertai muntah-muntah, merusak susunan saraf, serta menggagalkan peredaran darah. Dalam dosis tinggi, formalin dapat menyebabkan kejang-kejang, kencing darah bahkan tidak bisa kencing, dan muntah darah, hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Penggunaan boraks juga tak kalah berbahaya. Pada dosis rendah bisa terakumulasi di otak, hati, dan lemak. Untuk pemakaian dalam jumlah banyak, boraks dapat mengakibatkan demam, koma, kerusakan ginjal, pingsan, dan kematian. Biasanya gejala akibat keracunan boraks muncul antara tiga sampai lima hari. Gejala awalnya berupa mual-mual, muntah, diare, kejang, dan kemudian muncul bercak-bercak pada kulit, serta kerusakan pada ginjal. Wah, seremnya...!

Jadi, sahabat harus pintar-pintar memilih jajanan, agar tidak merugikan tubuh kita. Untuk jajanan yang menggunakan pengawet memang cukup susah dikenali, sahabat dapai minta tolong ibu guru atau orang tua sahabat untuk memilih makanan. Atau bila mau lebih aman, sahabat membawa bekal makanan saja dari rumah. Selain terjamin keamanannya juga dapat menghemat uang jajan bukan? Selamat memilih jajanan sehat…

Malam itu Icha terlihat sangat sibuk. Ia mondar-mandir di kamarnya, seperti sedang menyiapkan sesuatu. Saat sudah selesai dengan pekerjaannya, dia menghampiri sang mama.

“Mama, ayo kita beli pensil warna! Kata bu guru besok ada lomba mewarnai!Gratis kok ma, nggak bayar!”kata Icha dengan semangat.

Mama Icha hanya tersenyum melihat Icha yang begitu menantikan acara itu. Pantas saja Icha bersemangat, dia sangat suka mewarnai.

Nah sahabat pelangi, jadi pada penasaran kan, seperti apa sih sebenarnya acara yang diikuti oleh Icha itu?

Sahabat pelangi, sabtu 23 Mei lalu, kakak-kakak kita dari Fikom Unpad mengadakan acara lomba mewarnai dan penyuluhan kesehatan gigi, dengan tema ‘warna-warni sehat dan ceria’. Acara ini diadakan di sekolahannya Icha, TK Kemala Bhayangkari 43 Jatinangor. Ada yang tau? :)

Panitia acara, Kak Ella, mengatakan kalau acara ini dimulai pukul 8 pagi. Saat itu semua anak dikumpulkan di lapangan untuk melakukan apel. Ada yang menarik saat melihat mereka apel pagi. Seragam sekolah mereka saat itu kan seragam polisi, hmm…lihat mereka berpakaian polisi dan berbaris rasanya seperti melihat miniatur polisi. Lucu. Pas di apel ini, Bu Etik seba-gai kepala sekolah berpesan kepada anak didiknya untuk belajar sportif. Jadi, ketika nanti ada pengumuman pemenang, semua orang akan menyambutnya dengan suka cita. Meskipun mungkin dia tidak jadi juara.

Kata Bu Etik, masih ada anak yang suka menangis dan meraung-raung ketika dia ikut lomba dan ternyata belum menang. Nah, sahabat pelangi, tentunya ini bukan hal yang bagus untuk ditiru ya..

Acara kemudian dilanjutkan dengan lomba mewarnai. Inti acara yang membuat Icha dan teman-temannya bersemangat. Mewarnai memang asik sahabat, kita bisa menjadikan gambar yang tadinya hanya hitam putih, menjadi berwarna-warni. Lebih terkesan hidup dan ceria! 

Setelah mewarnai, sambil menunggu penilaian oleh tim juri, teman-teman kita mendapat-kan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Acara ini dipimpin oleh temen-temen dari FKG. Semua anak memperhatikan dengan cermat, seperti apa cara gosok gigi yang benar, dan kapan saja kita harus menggosok gigi.

“Aku suka gosok gigi. Setiap habis makan dan sebelum tidur. Kata Mama, kalo kita jarang sikat gigi, nanti jadi banyak kuman,” kata Icha sambil memamerkan senyumnya.

Hayooo… sahabat pelangi di sini pada suka gosok gigi nggak? :)

Nah, selepas penyuluhan kesehatan gigi, waktunya pengumuman juara lomba mewarnai. Semua anak dag dig duer, berharap bisa menyandang juara lomba. Akan tetapi, yah, seperti ini lah lomba. Ada yang menang, ada yang kalah. Ngga perlu disesali berlebihan kalau kita belum menang. Pasti ada kesempatan berikutnya ko. Tenang aja ;)

Sahabat pelangi, dalam acara ini semua peserta terlihat sangat gembira. Termasuk Desti, sahabat Icha yang mengatakan langsung kegembiraannya.

“Iya, Desti suka acara kayak gini. Seru!” katanya.

Eh sahabat , ternyata tidak Icha dan Desti saja loh yang senang. Ibu Icha yang saat itu hadir juga merasakan kegembiraan.

“Kita seneng liat anak-anak sambil main sambil belajar. Mereka lebih cepat menyerap sebuah pelajaran saat belajarnya bareng sama teman-temannya,”kata Ibunya Icha menutup pembicaraan.

Nah, sahabat pelangi, gimana, seru kan ceritanya?

Semoga sedikit cerita dari sekolah Icha ini bisa bermanfaat buat kita semua :)

Kali ini, Pelangi akan mengajak sahabat bersama keluarga untuk menikmati nikmatnya kuliner khas Sunda, seperti nasi merah plus lauk dan lalap, dengan harga yang ramah di kantong. Istimewanya, sahabat bisa menyantap makanan sedap itu sambil menikmati pemandangan dari tepi mangkuk raksasa!

Jangan bingung dulu. Yang dimaksud tentu saja bukan mangkuk yang biasa sahabat gunakan un-tuk makan bakso. Mangkuk ini adalah sebuah mangkuk geografis, begitu para ahli menyebutnya. Ya, tepat sekali! Inilah Kota Bandung, yang dikelilingi barisan pegunungan di berbagai penjuru, sehingga kota cantik ini seolah berada dalam sebuah mangkuk raksasa. Tidak percaya? Silakan datang dan buktikan sendiri di Puncak Ciumbuleuit Utara atau yang lebih dikenal dengan Punclut, 7 kilometer dari pusat Kota Bandung. Tidak jauh kan? Punclut menjadi tempat wisata favorit warga Bandung, bahkan tak sedikit wisatawan dari luar kota yang senang berkunjung ke sini. Selain strategis, Punclut pun masih bisa kita nikmati secara cuma-cuma, tanpa perlu bayar tiket masuk alias gratis. Wah senangnya! Seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati peman-dangan indah dengan murah meriah!

Di tempat ini, kita bisa menyaksikan pemandangan Kota Bandung dari ketinggian, serta deretan pegunungan yang mengelilinginya bagaikan benteng. Hal ini membuat kita serasa berada di tepi sebuah mangkuk raksasa. Udaranya sejuk segar, membuat kita pasti betah berlama-lama disini. Apalagi ditambah dengan deretan warung makan yang siap mengganjal perut kita dengan sajian khas Sunda, seperti nasi timbel plus lalapan. Ada nasi timbel yang terbuat dari beras merah atau hitam juga loh! Nasi merah yang gurih ini, dapat dinikmati dengan harga 3000 rupiah per porsinya, harga yang cukup murah. Tahukah kawan, nasi merah ini sangat baik untuk kesehat-an, karena kadar karbohidratnya rendah sementara kandungan seratnya tinggi. Bagus untuk yang sedang berdiet.
Nasi merah ini dapat dinikmati dengan lalapan daun singkong, sambal terasi, serta berbagai macam lauk, mulai dari ayam bakar, tahu-tempe goreng, oncom, aneka pepes, sampai jengkol! Tapi tenang saja, soal harga, masih terjangkau kok. Wah, coba saha-bat bayangkan makan nasi timbel hangat dengan pepes atau ayam bakar di atas puncak bukit yang sejuk, ditambah pemandangan Kota Bandung yang indah, wow nikmat sekali rasanya! Apalagi bila bersama keluarga, suasana akan menjadi semakin istimewa. Apabila sahabat datang ke sini hari Minggu pagi, jangan kaget kalau Punclut jadi ramai sekali. Setiap akhir pekan di Punclut memang selalu ada pasar kaget. Ratusan pedagang berjejer di sepanjang kawasan Punclut, dengan barang dagangan yang bera-gam, mulai dari makanan, pakaian, peralatan rumah tangga, sampai tanaman hias. Penjual ja-janan juga banyak, ada minuman bandrek, berbagai olahan oncom, surabi, dan banyak lagi penganan khas yang bisa menghangatkan sahabat di Punclut yang dingin. Tertarik? Ayo kawan, ajak Papa Mama untuk menikmati semangkuk Bandung dari tepian Punclut!

oleh: Ken Andari

“Ayah pergi dulu, ya. Dah Arif sayang, Ayah pasti cepat pulang! Jaga Bunda dan Arif ya Ris, jagoan Ayah,” ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku hanya bisa terpaku memandangi punggung kekarnya yang kian menjauh. Ayah harus pergi lagi. Kali ini ke Mesir, perbatasan Rafah tepatnya. Di sanalah Ayah akan bertugas, mengabarkan situasi langsung dari Gaza untuk dunia. Ya, ayahku adalah seorang wartawan televisi. Ia tak pernah berhenti mencari berita, karena memang berita tak pernah habis. Namun karena ayahku memang wartawan senior, ia kerap diberikan tugas liputan yang berat-berat. Seringkali ke daerah konflik atau daerah bencana.

Tahun 2004 lalu misalnya, ketika situasi di Aceh sedang panas-panasnya, Ayah dikirim ke sana. Aku dan Bunda sangat khawatir, tapi setiap malam Ayah menelepon dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Selama satu minggu, kami masih bisa bernafas lega karena Ayah tak pernah absen mengabari kami. Namun tiba-tiba pagi hari tanggal 26 Desember 2004 peristiwa itu terjadi. Tsunami besar menghantam Aceh, seluruh kota luluh lantak. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia. Selebihnya hilang disapu lautan yang mengamuk. Aku sedang ujian akhir semester saat itu. Dan aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan soal. Pikiranku selalu tertuju pada Ayah, dimana dia? Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya sekarang? Adakah ia terluka? Atau... ah tidak! Berbagai bayangan buruk tak henti mengusik pikiranku.

Tentu saja, kita semua tahu Aceh benar-benar hancur kala itu. Listrik terputus, saluran komunikasi tidak ada, makanan sulit. Banyak daerah yang terisolasi. Selama satu minggu tak ada kabar dari Ayah. Semua orang masih sibuk mengevakuasi jenazah yang ribuan jumlahnya. Aku tak pernah mau melihat liputan televisi atau foto-foto di media cetak. Apalagi foto para korban meninggal. Aku takut. Aku takut akan melihat sosok yang kukenali... Bunda pun tampak layu. Ia selalu berusaha tersenyum di hadapanku, mencoba menguatkanku dan bilang bahwa Ayah akan baik-baik saja, tapi aku tahu saat aku tak ada, Bunda menangis sejadi-jadinya.

Saat itu kami benar-benar digantung. Tersiksa betul rasanya. Akhirnya, seminggu kemudian Pak Andi, pemimpin redaksi Ayah menelepon kami dan mengabarkan bahwa Ayah baik-baik saja. Ayah sedang berada di bukit, dalam hutan bersama kelompok GAM ketika tsunami terjadi. Ayah selamat, tapi baru bisa pulang sepuluh hari kemudian. Ia tampak lusuh dan tertekan, tapi matanya berbinar seketika ia menatap kami kembali.

Sejak itu, Ayah semakin sering menyediakan waktu untuk kami. Agaknya Ayah merasakan betul bahwa apapun bisa terjadi dalam hidup. Ia harus siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Ia tak tahu kapan akan ditugaskan lagi. Mungkin besok, lusa, atau bulan depan. Mungkin ke Irak, Afghanistan, atau Rwanda. Aku tak tahu, Ayah pun tak tahu. Karena memang tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi esok. Adik kecilku yang masih berumur lima tahun, Arif, setiap hari selalu bilang dengan polosnya, ”Ayah jangan pergi lagi...” Ayah biasanya cuma tersenyum. Ia tak bisa janji. Arif tak akan mengerti. Itu sebabnya ia menangis lagi ketika Ayah pergi tadi pagi.

Aku pun tak mau Ayah pergi. Aku sudah lihat pemberitaan di media massa tentang betapa kacaunya situasi di Gaza. Pasukan Israel menyerang siapa saja dengan membabi buta. Anak-anak, wanita, orang tua, semua terluka. Aku tahu, wartawan tidak boleh diserang di medan perang. Tapi tentu saja, kekhawatiran itu tetap saja ada. Kalau para tentara biadab itu saja tidak memandang anak-anak dan wanita, bagaimana mau menjamin keselamatan wartawan? Makanya, kami tak henti berdoa.

Sebenarnya menyenangkan jadi anak seorang wartawan. Bangga rasanya. Berkat merekalah kita jadi tahu banyak informasi dari berbagai belahan dunia. Ayah sudah terjun ke dunia jurnalistik sejak muda. Ia dahulu aktivis di kampusnya. Sebelum menikah pun, Ayah sudah bekerja sebagai reporter di sebuah surat kabar terkemuka ibukota. Berarti sudah lebih dari 13 tahun Ayah mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi wartawan. Ya, Ayah bilang menjadi wartawan berarti memegang amanat masyarakat, karena wartawan mewakili right to know dan right to inform khalayak luas. Karena itu, Ayah tak pernah mengeluh meskipun gajinya tak sebesar kawan-kawan lain yang bekerja di perusahaan swasta. Kata Ayah, ia bekerja bukan untuk digaji perusahaan, tapi ia bekerja untuk memenuhi kepuasan khalayaknya. Dan satu lagi, yang menurutku paling keren, Ayah bekerja untuk kebenaran.

Karena Ayah seorang wartawan, nilai-nilai jurnalistik ia terapkan juga dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Misalnya, tepat waktu, harus bersikap kritis, tak boleh asal berbicara, apalagi berbohong. Ayah juga sangat demokratis. Ia tak pernah melarang anak atau istrinya melakukan sesuatu. Biarpun aku dan Arif masih kecil, ia bicara dan memperlakukan kami berdua layaknya orang dewasa. Kalau ada masalah kami tidak pernah dimarahi, melainkan diajak duduk bersama di ruang tamu dan mendiskusikan masalah tersebut.

Ayahku pengetahuannya luas sekali, seperti ensiklopedi berjalan. Seaneh apapun pertanyaan yang pernah aku ajukan kepadanya, tak satu pun yang tak bisa dijawabnya. Waktu memang tak akrab denganku dan Ayah, sebab ia pergi sangat pagi. Kadang pulang pagi lagi. Tapi setiap kali pulang, selalu banyak hal, banyak cerita yang ia uraikan kepada kami. Makanya rindu kami pada Ayah tak pernah musnah, walau ia jarang di rumah.

Seperti hari ini. Sudah seminggu sejak Ayah berangkat ke Gaza. Situasi di sana sudah semakin menggila. Hari ini, sudah hampir 500 orang warga sipil terbunuh. Tentara Israel benar-benar tak menghargai jiwa. Setiap hari, kami bertiga tak pernah ketinggalan mengikuti program berita. Sebab pada sesi liputan khusus mengenai krisis di Jalur Gaza, kami bisa melihat Ayah di layar kaca yang sedang melaporkan langsung dari perbatasan Rafah. Ayah dan rombongan relawan Indonesia lainnya memang belum bisa memasuki Gaza, karena tentara Israel masih memblokadenya.

Walaupun cuma lewat televisi, itu sudah cukup mengobati kerinduan kami. Kami juga bisa tahu, bahwa Ayah baik-baik saja. Meskipun tak jarang kami nyaris histeris melihat bom atau granat meledak hanya sekian kilometer dari tempat Ayah berdiri. Atau suara gemuruh pertempuran jarak dekat yang juga terdengar di antara suara Ayah yang sudah mulai serak. Suasana yang menyeramkan itu terbawa hingga ke ruang tamu kami. Setiap menonton liputan langsung Ayah, mata Bunda selalu berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis. Aku mengerti perasaan Bunda. Pasti campur aduk rasanya, rindu, khawatir, takut, sekaligus bangga. Aku juga. Aku bangga pada Ayahku yang pemberani.

Selama di Gaza, Ayah baru bisa menghubungi kami tiga kali. Itu pun ketika baru hari-hari pertama di sana. Selepas itu, mungkin situasi bertambah gawat sehingga Ayah tak sempat lagi menghubungi kami. Kini, cuma kabar dari Pak Andi dan gambar-gambar Ayah di televisi yang menjadi pengobat rindu kami. Ayah sama sekali tak pernah menelepon lagi. Setiap pagi, aku terbangun dan mendapati Bunda sudah duduk di depan televisi mengikuti berita pagi. Tentu saja, menunggu Ayah, apalagi? Bunda mengucapkan selamat pagi dan tersenyum, tapi kulihat matanya semakin hari semakin cekung. Aku mencium pipinya, mencoba membuat Bunda bahagia dan bersinar seperti biasanya. Aku ingat kata-kata Ayah sebelum ia berangkat, ”Haris jagoan Ayah, jaga Bunda dan Arif, ya!”

Tapi kurasa aku tak pernah benar-benar berhasil mengembalikan bintang di mata Bunda. Karena aku pun tak kuasa terbang lebih tinggi. Aku butuh Ayah, yang mengajari aku terbang, untuk mengambilkan Bunda bintang-bintang. Ayah, cepatlah kembali! Aku tak tahan melihat mata Bunda yang semakin meredup. Mataku pun kembali menghangat. Apalagi kalau mendengar adikku, Arif bertanya, ”Ayah kapan pulang? Kok Ayah nggak pernah nelpon, Bunda? Arif kangen mau foto-foto lagi.” Ya, adikku itu meskipun baru 6 tahun umurnya, sudah jago memotret, loh. Pakai kamera Nikon Ayah. Aduh Dik, Ayah sendiri pun tampaknya belum tahu kapan ia bisa pulang. Karena konflik pun tampaknya belum akan berakhir.

Aku sedang duduk dan membaca buku-buku Ayahku, di ruang kerjanya. Ruang kerja Ayah kecil, tapi rapi sekali. Bukunya banyak, aku sudah baca hampir setengahnya. Sejak aku kecil, Ayah tak pernah menyodoriku buku mewarnai dan semacamnya. Ia malah membuatku penasaran dengan buku-buku ”orang gede”, seperti buku sastra atau buku tebal berbahasa Inggris. Kalau nggak ngerti, aku akan tanya pada Ayah. Maka tak heran, isi otakku sekarang agak berbeda dengan anak-anak kelas 2 SMP lain seusiaku. Bukan komik, bukan video game yang aku minati, melainkan buku.

Tiba-tiba telepon berdering. Aku mengangkatnya, dan aku langsung mendengar suara yang sangat aku kenali, Ayah!

”Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah!”

”Wa’alaikum salam! Iya Ayah! Waa Ayah kok baru nelepon sih? Ayah kemana aja, kita kan nunggu-nungguin telepon Ayah! Ayah lagi di mana? Apa kabar, Yah?”

”Waduh, stop stop nanyanya satu-satu dong. Iya nih Rif, susah banget buat nelpon ke Jakarta dari sini. Maaf ya. Ayah sekarang lagi di Rafah. Satu jam lagi Ayah siaran, nonton ya! Hehehe...”

”Ayah jangan deket-deket sama bom dong, kita ’kan ngeri ngeliatnya.”

”Hahaha! Kadang kita ’kan juga nggak bisa memprediksi bomnya akan jatuh dimana. Tahu sendiri kan, gimana tentara Israel itu? Tapi tenang aja kok, banyak pasukan PBB di sini. Insya Allah, Ayah aman. Bunda sama Arif mana?”  

”Bunda tadi lagi keluar, ada acara sama ibu-ibu RT. Arif dibawa. Mau dipanggilin?”

”Duh, nggak usah deh. Soalnya Ayah nggak bisa lama-lama. Salam aja ya, buat Bunda dan Arif. Salam sayang, salam kangen mmuah. Hahaha!”

”Oke. Ayah... cepat pulang....” suaraku tercekat.

”Iya Ayah pasti pulang bagaimanapun bentuknya. Hahaha! Titip rumah ya, Jagoan. Gantikan Ayah sebentar, oke? Assalamualaikum!”

”Wa’alaikum salam. Ayah, jangan....”

Tut...tut...tut... Sambungan telepon terputus.

...jangan dekat-dekat bom lagi.

Aku melirik jam. Wah sudah pukul lima sore. Waktunya lihat berita, lihat Ayah. Bunda belum juga pulang. Ya, aku menonton sendirian deh. Aku senang sekali habis ngobrol dengan Ayah. Aku lihat berita, ternyata situasi di Gaza semakin kacau saja. Israel semakin gencar melakukan serangan. Mereka bahkan mengebom rumah sakit, pengungsian, dan pos kesehatan PBB.

Korban jiwa sudah mendekati angka seribu. Seluruh dunia mengutuk Israel, tapi hanya sebatas mengutuk. Mereka tidak bisa menghentikannya. Ffiuhh...tapi aku sudah lega karena Ayah baik-baik saja. Nah, itu dia Ayahku di layar kaca!

”Ya, pemirsa. Kembali Faisal Akbar melaporkan tentang situasi di Jalur Gaza, langsung dari perbatasan Rafah. Seperti bisa Anda lihat, pemirsa, di belakang saya...”

Wah baru kali ini saya tidak merasa sedih melihat Ayah. Rasa kangen saya sudah sedikit terobati. Sayang Bunda dan Arif tidak ada. Situasi di belakang Ayah sangat menyeramkan. Ada sekitar tiga atau empat asap hitam berbentuk cendawan raksasa yang mengotori langit gaza. Kemudian ada juga bom yang ditembakkan dari udara, yang asapnya berbentuk seperti ubur-ubur dan berwarna putih. Bom apa itu, ya? Duh Ayah, tadi ’kan aku sudah bilang, jangan dekat-dekat bom. 

DHUAARRRR.....!!!
Suara gemuruh keras sekali. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi di layar kaca, kecuali debu dan...darah! Astaga! AYAH!!! Bunda, tolong!! Bunda, aku sendiri! Bunda cepat kemari! Bunda, dimana kau Bunda? Bunda, aku mau lari...!!! Tapi tubuhku seperti terkunci di sofa. Mati rasa. Aku seperti mau mati. Aku tak mau percaya! Apa yang sedang terjadi? Darah siapa yang muncrat di kamera tadi? Ya Tuhan!
Ini siaran langsung, kawan! Ini sungguhan! Dan reporter itu Ayahku! AYAHKU! Seketika situasi kacau, suara tak jelas. Gambar mengerikan itu pun segera digantikan dengan gambar studio di Jakarta, yang penyiarnya tampak kalang kabut. Kedua penyiar berita sore itu berusaha tenang, tapi suara mereka hampir-hampir tercekat ketika mencoba menjelaskan apa yang terjadi kepada pemirsa. Penyiar yang perempuan bahkan tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya memerah ketakutan. Air matanya hampir menetes. Semua orang di studio, semua pemirsa di rumah bingung apa yang terjadi. Apa yang harus dilakukan? Semua terjadi begitu cepat, dan tentu saja, sama sekali di luar bayangan kami semua! Ini siaran langsung! Berarti, saat ini, detik ini, apa yang terekam kamera barusan betul-betul sedang terjadi. Gambar yang terlalu mengerikan, terutama untukku!
Astaga, itu Ayahku! Ayahku yang baru saja menelepon satu jam yang lalu! Aku baru saja bicara dengannya! Ia bilang ia akan pulang! Peristiwa tadi kembali berputar dalam pikiranku. Suara gemuruh, debu, dan darah yang muncrat. Semua terekam jelas. Aku melihat peristiwa tadi, dengan mata kepalaku sendiri! Aku sendiri! Bunda, aku takut... Aku tak bisa bergerak Bunda! Bunda, cepat pulang... Kemudian terdengar suara pintu pagar rumah dibuka. Bunda! Terdengar suara si kecil Arif, ”Bunda, ayo cepat nanti kita ketinggalan nonton Ayahnya!” Bunda masuk, dan menyapaku, ”Mas Haris lagi nonton Ayah, ya? Kita udah ketinggalan belum?”
Aku mau mati rasanya. 

Sahabat Pelangi, sebentar lagi liburan sekolah akan tiba. Sudah punya rencana akan berlibur ke mana bersama keluarga? Kalau belum, hmm... tenang saja, ada banyak film seru yang akan rilis mulai bulan Juni hingga Juli ini. Berikut Pelangi akan berikan sedikit ulasannya!

“Ice Age 3: Dawn of The Dinosaurs”

Sahabat, masih ingatkah dengan film kartun Ice-Age? Itu loh, film yang mengisahkan tentang kisah persahabatan yang indah dan kehidupan di zaman es dulu, dengan tokoh-tokohnya seperti Manny si mammoth (Ray Romano), Diego si harimau bertaring panjang (Dennis Leary), Sid si Kukang yang lucu (John Leguizamo), serta Scrat si Tupai yang tak pernah lelah mengejar biji kenarinya. Nah, setelah dua sekuel yang lalu Ice Age terbilang sukses, tanggal 1 Juli 2009 mendatang film ini akan kembali hadir dengan sekuel ketiganya, ”Ice Age 3: Dawn of the Dinosaurs”.

Film ini merupakan lanjutan dari kisah dalam film ke-2 saat lapisan es di permukaan bumi mulai mencair. Es yang mencair ini rupanya membuat sekelompok dinosaurus kembali berkeliaran, setelah lama mereka hidup di sebuah daerah tropis yang tertutup lapisan es tebal. Tidak seperti dua film sebelumnya dimana Scrat hanya menjadi figuran, dalam film kali ini cerita justru lebih fokus ke Scrat. Kali ini, Scrat jatuh cinta! Hihi seperti apa ya kalau tupai jatuh cinta? Tak hanya itu, Scrat bahkan dihadapkan pada pilihan sulit antara cintanya dengan tupai betina yang ia taksir. Ehm!

Sama seperti dua film sebelumnya, yakni “Scrat’s Missing Adventure” dan “The Meltdown”, sekuel ketiga ini masih akan digarap oleh Sutradara peraih nominasi Piala Oscar, Carlos Sadanha. Film ini juga rencananya akan digarap 3D secara keseluruhan.

“Transformers: Revenge of The Fallen”

Film “Transformers: Revenge of The Fallen” yang dibintangi oleh Shia LaBeouf, Megan Fox, Isabel Lucas, dan Rainn Wilson ini merupakan salah satu film liburan musim panas yang paling ditunggu. Sahabat yang sudah menonton sekuel pertamanya tentu penasaran bukan tentang kelanjutan kisahnya? Nah, film tentang robot yang penuh dengan visual efek mengagumkan ini akan kembali hadir Juli mendatang. 

Setelah pada sekuel film pertama pertempuran di Bumi dikisahkan telah berakhir, pada film ini pertempuran di alam semesta justru baru saja dimulai. Starscream yang kembali ke planet asal mereka, Cybertron, mengambil-alih posisi sebagai komandan Decepticons. Ia memutuskan kembali ke Bumi dengan pasukannya. Hal ini dilakukan setelah ia mengetahui Sam Witwicky (Shia LaBeouf) menemukan informasi mengenai asal-usul Transformers dan sejarahnya di Bumi. Sementara itu Autobots semakin menyadari bahwa kedamaian masih jauh setelah mengetahui tubuh Megatron dicuri Skorpinox dari markas militer Amerika, dan dihidupkan kembali dengan energi dirinya sendiri. Kali ini, Megatron kembali untuk balas dendam.

Wah sepertinya seru ya! Film ini disutradarai oleh Michael Bay, seorang sutradara kreatif. Kita tunggu saja kehadiran film ini, liburan mendatang. Siap-siap demam Transformers lagi ya, sahabat! 

“Harry Potter and Half Blood Prince”

Mengalahkan Hermione dalam pelajaran Ramuan? Mana mungkin! Tapi berkat buku pinjaman milik Pangeran Berdarah Campuran, Harry bisa melakukannya! Dalam sekuel keenam Harry Potter ini, Profesor Dumbledore mengajak Harry melihat masa lalu Voldemort. Mereka juga berjuang mencari dan menghancurkan Horcrux, benda yang menyimpan bagian jiwa Voldemort. 

Sekuel keenam dari film Harry Potter ini sudah ditunggu-tunggu sejak pertama kali dijadwalkan akan tayang pada November 2008. Warner Bros. pun akhirnya memutuskan untuk merilis film ini pada 15 Juli 2009, bertepatan dengan libur musim panas. Film ini masih dibintangi oleh trio Daniel Radcliffe sebagai Harry Potter, Rupert Grint sebagai Ron Weasley, dan Emma Watson sebagai Hermione Granger.

Sahabat yang pernah membaca bukunya tentu berharap sutradara David Yates bisa mewujudkan khayalan kita dalam tayangan film yang seru, bukan? Kita lihat saja bagaimana aksi Daniel Radcliffe dkk. dalam film kali ini!

Nah, bagaimana sahabat? Tak perlu pergi jauh-jauh untuk bisa berlibur seru bersama keluarga, bukan? Film-film yang seru akan menemani sahabat menikmati liburan!

Sahabat pelangi, sekolah sudah menjadi kebutuhan kita sebagai seorang manusia. Ya, kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu atas banyak hal. Di sekolah kita tidak hanya diajarkan bagaimana itu matematika, biologi, sejarah. Lebih dari itu, sekolah sebenarnya mendidik kita bersikap, bagaimana agar kita menjadi manusia berbudi pekerti luhur.
Namun sahabat, ternyata tidak semua orang bisa merasakan nikmatnya bersekolah. Seperti teman-teman kita di daerah Sukawening, Jatinangor. Di daerah tersebut cukup banyak anak-anak yang harus putus sekolah. Penyebab utamanya adalah keterbatasan ekonomi keluarga. Akhirnya, beberapa orang tua di sana menganjurkan anaknya untuk langsung bekerja saja, tidak perlu repot-repot sekolah.

Keadaan seperti inilah yang ternyata menggerakkan kakak-kakak dari UNPAD untuk mendirikan sekolah alternatif bernama Taman Ilmu. Peserta Taman Ilmu ini adalah teman-teman kita yang putus sekolah di daerah Sukawening dan sekitarnya.

Menurut penanggung jawab Taman Ilmu, Kak Rahmi, sampai saat ini sekitar 50 anak tercatat sebagai murid Taman Ilmu. Sama seperti sekolah pada umumnya, di Taman Ilmu ini, para murid dibagi menjadi enam kelas. Kelas satu sampai kelas enam. Hanya saja sahabat, kondisi yang ada tidak memungkinkan satu kelas mendapatkan satu ruangan. Jadi, dari enam kelas ini dibagi menjadi tiga ruangan. Ruangan pertama untuk kelas satu dan dua, yang kedua untuk kelas tiga dan empat, dan ruangan terakhir untuk kelas lima dan enam.

Nah, sahabat pelangi, teman-teman kita di Taman Ilmu ini bersekolah setiap hari Kamis, Jum’at, dan Sabtu pukul 14.00-16.30. Sambil mengisi waktu sebelum sekolah, teman-teman kita terbiasa untuk membantu orang tuanya. Ada juga yang harus bekerja dulu sebelum sekolah. Meskipun begitu, teman-teman kita ini sangat semangat mengikuti pembelajaran.

“Seneng. Kakaknya baik-baik,”kata Ina, salah satu murid Taman Ilmu yang memiliki keterbelakangan mental.

Mendirikan sekolah alternatif memang bukan hal yang mudah, sahabat. Kakak-kakak dari UNPAD ini harus menyediakan kurikulum bagi teman-teman kita di Taman Ilmu. Tidak hanya itu, ada juga tim pembuatan program akademik. Tugasnya membuat teman-teman kita di Taman Ilmu tidak jenuh dengan pembelajaran. Misalnya dengan berekreasi bersama. Pembuatan kurikulum dan program ini dilakukan agar lulusan Taman Ilmu memiliki kemampuan yang tak kalah hebatnya dengan lulusan sekolah regular.

Nah, sahabat pelangi, jika mereka masih tetap semangat belajar dalam keterbatasannya, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita belajar bersungguh-sungguh?

Alkisah, di sebuah dusun di daerah Jambi, tersebutlah seorang anak bernama Kelingking. Seperti namanya, ukuran tubuh anak ini memang hanya sebesar kelingking. Kecil sekali. Kelingking lahir dari ibu dan bapak yang berpuluh-puluh tahun belum memiliki anak. Sebelum kelingking lahir, sang bapak pernah memohon pada Allah..

‘Ya Allah, sudah puluhan tahun kami menikah, tapi hingga saat ini belum juga dikaruniai anak. Karuniakanlah kepada kami seorang anak meski hanya sebesar kelingking,” kata sang Bapak.

Ternyata Allah benar-benar mengabulkan doa bapak tersebut. Tak lama, sang Ibu sudah mengandung. Namun, ukuran perut sang Ibu saat hamil tidak sebesar perut ibu lain yang sama-sama hamil. Akhirnya mereka berdua menyadari bahwa Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh sang Bapak. Ya, mereka akan memiliki anak yang hanya sebesar kelingking.

Sembilan bulan berlalu, lahirlah seorang anak berukuran kecil yang dinamai kelingking. Dia sangat disayangi oleh ibu dan bapaknya. Selalu dijaga dan dirawat, meskipun tubuhnya tak juga membesar.

Suatu hari, ada kabar yang mengatakan bahwa dusun mereka sedang didatangi oleh seorang nenek jahat yang suka mengganggu manusia. Semua penduduk segera mengungsi, menghindari nenek jahat tersebut. Pun juga Ibu dan Bapak Kelingking, mereka bergegas mengajak Kelingking pergi.

“Ayo kelingking, segera berkemas. Kita akan mengungsi bersama penduduk lain,“ kata Bapak.

“Tidak Bapak, saya akan tetap di sini dan melawan nenek jahat itu,” kata Kelingking penuh keyakinan.
“Jangan main-main kelingking. Tubuhmu sangatlah kecil, bagaimana jika nenek jahat itu menginjakmu!”
“Bapak, biarkan saya di sini sendiri. Saya yakin saya mampu mengalahkannya!”
Sang Bapak akhirnya menyerah membujuk Kelingking. Dia biarkan Kelingking tetap tinggal di dusun. Sambil menunggu kehadiran nenek jahat, Kelingking masuk ke sebuah lubang dan berdiam di situ. Sampai akhirnya nenek jahat itu datang sambil marah-marah, karena tidak ada seorang pun manusia ataupun binatang di sana.
“Keluar kalian semua! Keluar dari persembunyian kalian! Saya akan makan kalian bulat-bulat!” kata nenek geram.
“Saya di sini nenek jahat!” kata Kelingking dari lubang persembunyiannya.
Namun, nenek jahat itu tidak melihat seorang manusia pun di sana. Ia mulai merinding dan ketakutan.
“Keluar kamu! Saya sangat lapar, saya akan memakanmu bulat-bulat!”
“Kemarilah kalau memang bisa menemukanku. Tampaknya juga dagingmu sangat lezat. Kebetulan aku sedang lapar!” gertak Kelingking.
Mendengar kalimat itu, nenek jahat ketakutan. Orang yang berani menantang dirinya tentulah orang yang sangat kuat.
Tanpa pikir panjang, nenek jahat itu lari pontang-panting. Ke sana kemari tanpa memperhatikan jalan. Akibatnya dia tersandung dan jatuh ke dalam jurang. Hingga akhirnya nenek jahat itu pun pergi untuk selamanya.

Mendengar kisah keberhasilan Kelingking mengusir nenek jahat, semua penduduk akhirnya kembali dari pengungsiannya dan berterima kasih kepada kelingking. Kabar keberhasilan kelingking ini diketahui oleh Raja.

Raja tersebut tertarik dengan kepahlawanan Kelingking. Meskipun badannya sangat kecil, tapi ia mampu mengusir nenek jahat yang mengganggu kenyamanan banyak penduduk. Akhirnya Raja tersebut menganugerahi Kelingking dengan posisi panglima. Tak cukup dengan itu, Kelingking pun dinikahkan Raja kepada putrinya yang cantik jelita.

Kelingking pun akhirnya hidup berbahagia dengan isteri yang dicintainya.

Hikmah cerita ini : Sahabat pelangi, seperti apapun kita dilahirkan, syukurilah. Yakinlah bahwa ini memang yang terbaik dari Allah buat kita. Ingat, dalam setiap kelemahan kita, sesungguhnya tertanam kekuatan. Seperti si Kelingking, meskipun badannya kecil, ia adalah orang yang penuh percaya diri dan berani. Badannya yang kecil tidak lantas membuatnya bersedih dan lemah. Ia justru menjadi orang yang kuat, berani, dan disegani banyak orang. Jadi, sahabat pelangi, ayo sama-sama bersyukur..!

Sahabat, profil kali ini mengangkat kehidupan seorang murid Taman Ilmu bernama Ina. Ina adalah teman kita yang mengalami keterbelakangan mental.Saat ia mengikuti tes IQ [kecerdasan intelektual], hasilnya menunjukkan angka kurang dari 70. Rata-rata kita memiliki kecerdasan di atas 70.Meskipun begitu, ia disebut pengajar Taman Ilmu sebagai murid paling rajin. Ya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan Ina. Berikut profilnya:
Namanya Lina Lestari. Keluarga dan teman-temannya biasa memanggil dia Ina. Ina lahir di Sumedang, 18 Maret 1996. Ia pernah bersekolah di SD Hegarmanah, saat itu Ina masih kelas satu. Akan tetapi,para guru disana menyarankan kepada Bu Elis [Ibu Ina] bahwa Ina seharusnya bersekolah di SDLB [sekolah dasar luar biasa].
Mendengar hal itu, Ibu Ina pun menyekolahkan Ina ke SDLB Fadhilah di Ciawi. Namun, karena masalah ekonomi, dia terpaksa putus sekolah. Kini Ina bersekolah di Taman Ilmu, sebuah sekolah alternatif di dekat rumahnya, daerah Sukawening, Jatinangor. Sekolah ini adalah program dari Kakak-kakak BEM UNPAD untuk anak-anak yang putus sekolah.Di Taman Ilmu ini, Ina memiliki banyak teman, salah satunya adalah Icha. Ina mengaku senang bisa bersekolah di Taman Ilmu. Kepada Ibunya, dia sering bercerita tentang kakak-kakak Taman Ilmu yang menurutnya baik-baik.
Ina bersekolah setiap hari Kamis, Jum’at , dan Sabtu pukul 14.00-16.30. Menurut pengajar di Taman Ilmu, Ina termasuk anak yang rajin. Tak heran sahabat, Ina memang senang bersekolah. Selain itu, Ina juga senang sekali bersepeda dan bermain bersama adiknya, Rano.
Sahabat pelangi, teman kita Ina ini adalah penggemar musik dangdut. Saat ditanya siapa idolanya, dia hanya tersenyum malu, tidak menjawab. Oh iya, dalam usianya yang ketiga belas ini Ina sudah lancar menulis alphabet loh sahabat! Tulisannya juga bagus… Selain itu sahabat, ada juga keahlian Ina yang lain. Ina pinter masak nasi goreng! Nasi goreng buatannya disukai keluarganya. Wah..wah..Hebat ya?! Kapan-kapan mau dong dibikinin nasi goreng sama Ina…hehe..

Sahabat pelangi, kalian tentu mengenal burung merak bukan? Burung dengan ekor yang bila dikembangkan terlihat seperti kipas besar yang indah.


Burung merak merupakan salah satu burung yang paling menarik perhatian kita. Hal ini dikarenakan burung merak, khususnya merak jantan, memiliki ekor yang dapat dikembangkan menjadi seperti kipas. Dari panjang burung merak yang berkisar antara 2 sampai 2,5 meter, panjang ekornya bisa mencapai 90 cm sampai 1,2 meter, mungkin sedikit lebih pendek dari tinggi kalian. Berbeda dengan burung merak betina yang tidak memiliki kipas, tetapi memiliki jambul berwarna gelap.

Ekornya ini memiliki warna yang tak kalah indahnya. Ada yang berwarna biru, hijau, dan emas. Bila dikembangkan kita dapat melihat corak yang cukup unik dan teratur pada ekor burung merak ini. Terdapat corak seperti “mata” yang warnanya dapat berubah. “Kipas” yang dibentuk oleh buku keras pada ekor aslinya ini diangkat dan dipertahankan agar tegak.

Di antara kalian yang pernah melihatnya di kebun binatang, mungkin ada yang kurang beruntung tidak dapat melihat burung merak mengembangkan ekornya karena burung ini tidak bisa terus-terusan memamerkan ekornya yang indah ini. Ternyata, merak jantan memamerkan ekornya pada merak betina dan hanya untuk merak betina. Jadi, mudah saja bila kalian ingin melihat merak jantan mengembangkan ekornya, bawa saja merak betina ke dekat merak jantan itu. Mau mencoba?